Osteoporosis: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

<pre><pre>Osteoporosis: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang terjadi akibat hilangnya kepadatan tulang. Kondisi ini sering terjadi pada usia lanjut atau lanjut usia, terutama wanita pasca menopause.

Tulang yang kehilangan kepadatannya bisa menjadi keropos dan mudah patah. Dalam kasus tertentu, benjolan kecil atau bersin dapat menyebabkan cedera patah tulang.

Osteoporosis tidak hanya terjadi pada orang dewasa atau lansia, anak-anak juga berisiko mengalami pengeroposan tulang yang disebut osteoporosis remaja. Kondisi medis ini jarang terjadi dan terkadang penyebabnya tidak diketahui.

Tulang memiliki struktur yang mirip dengan sarang lebah, osteoporosis terjadi ketika ruang pada tulang menjadi terlalu lebar atau tidak lagi rapat. Tulang yang kehilangan kepadatan atau massa kehilangan kekuatan dan berisiko tinggi mengalami patah tulang.

Hilangnya kepadatan tulang dapat dimulai sejak usia tiga puluhan, semakin tua usia seseorang, semakin besar kemungkinan ia menderita osteoporosis.

Baca juga: Kenali Penyebab dan Gejala Osteoporosis pada Anak

Penyebab Osteoporosis

Seseorang yang mendapat cukup kalsium selama masa pertumbuhannya cenderung memiliki tulang yang padat dan kuat serta memiliki sedikit osteoporosis di usia tua.

Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang disebabkan oleh hilangnya kepadatan tulang karena berbagai faktor risiko.

Faktor penyebab osteoporosis

  • Jenis kelamin. Wanita lebih berisiko menderita osteoporosis di usia tua, yang dimulai dengan menopause.
  • Usia. Seseorang yang telah memasuki usia 50 tahun ke atas lebih berisiko menderita osteoporosis dibandingkan seseorang yang lebih muda.
  • Sejarah keluarga. Memiliki anggota keluarga, baik orang tua maupun saudara kandung yang menderita osteoporosis, memungkinkan anggota keluarga yang lain mengalami penyakit tulang ini.
  • Ukuran rangka tulang. Seseorang, baik pria maupun wanita, yang memiliki kerangka kecil, lebih berisiko terkena osteoporosis karena massanya yang kecil.
  • Hormon. Terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon seseorang seperti hormon esterogen atau testosteron lebih berisiko untuk menderita osteoporosis.
  • Makanan. Makanan memegang peranan penting dalam pembentukan tulang dan kesehatan, seseorang yang mengkonsumsi terlalu sedikit kalsium akan menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan beresiko mengalami keropos tulang secara dini.
  • Efek samping obat. Beberapa jenis obat, terutama obat kortikosteroid seperti prednison dan kortison dapat menyebabkan gangguan pembentukan tulang.
  • Kondisi medis. Osteoporosis sangat berisiko bagi orang-orang dengan kondisi medis seperti lupus, kanker, penyakit ginjal atau hati, penyakit radang usus, penyakit celiac, multiple myeloma, dan rheumatoid arthritis.

Osteoporosis dapat terjadi pada seseorang yang memiliki kebiasaan buruk seperti jarang berolahraga atau tidak aktif bergerak, melakukan aktivitas yang berkaitan dengan angkat berat, mengonsumsi minuman beralkohol, dan merokok.

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis pada stadium awal tidak akan menimbulkan gejala apapun, bahkan penderitanya tidak akan merasakan keluhan apapun pada tulangnya.

Namun, saat tulang benar-benar kehilangan kepadatannya dan menjadi lemah, gejala osteoporosis berikut bisa dirasakan:

  • Nyeri pada persendian, terutama punggung atau tulang belakang.
  • Ketinggiannya akan semakin menurun.
  • Perubahan postur tubuh yang cenderung bungkuk.
  • Tulang menjadi lebih rentan terhadap cedera atau patah tulang.

Kapan Menemui Dokter?

Jangan menunggu sampai mengalami gejala osteoporosis sebelum menemui dokter. Skrining dan pengobatan dini dapat membantu mengurangi pengeroposan tulang dan mencegah risiko terburuk.

Seseorang yang berusia minimal 50 tahun atau untuk wanita yang telah mengalami menopause dan sedang menjalani pengobatan menggunakan kortikosteroid sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih jika memiliki faktor risiko osteoporosis.

Komplikasi osteoporosis

Komplikasi osteoporosis yang paling umum adalah patah tulang. Kondisi ini akan sangat berbahaya jika tidak ditangani secara medis.

Apalagi jika patah tulang terjadi pada tulang belakang, risiko seperti cacat dan kematian di tahun pertama sejak cedera bisa terjadi.

Dalam beberapa kasus, osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang belakang meskipun tidak ada benturan atau terjatuh.

Tulang belakang atau tulang yang menyusun tulang belakang akan semakin melemah sehingga penderitanya akan sering mengalami sakit punggung, penurunan tinggi badan, dan perubahan postur tubuh menjadi membungkuk.

Pengobatan Osteoporosis

Pengobatan osteoporosis melibatkan penggunaan obat-obatan dan nutrisi penting untuk tulang. Berikut beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi osteoporosis:

1. Biofostonat

Perawatan ini berfungsi untuk memperlambat kerugian yang sedang terjadi. Ada juga beberapa jenis obat osteoporosis yaitu Alendronate (Binosto, Fosamax), risedronate (Actonel, Atelvia), asam zoledronat (Reclast, Zometa, dan Ibandronate (Boniva).

Penggunaan obat-obatan di atas memiliki efek samping seperti mual, sakit perut, dan mulas. Resep dokter diperlukan untuk mengurangi efek samping obat ini.

2. Suplemen Kalsium dan Vitamin D.

Dokter Anda akan merekomendasikan atau memberikan suplemen kalsium dan vitamin D yang dapat dikonsumsi kapan saja untuk membantu tulang Anda menjaga kepadatannya.

Dengan begitu, risiko patah tulang bisa dihindari. Konsultasikan dengan dokter Anda dan tanyakan dosis yang tepat untuk pengobatan osteoporosis ini.

3. Pengobatan Osteoporosis Hormonal

Penggunaan hormon tertentu untuk menjaga kepadatan tulang dan menghindari resiko patah tulang, ada juga beberapa obat osteoporosis hormonal yaitu:

  • Hormon estrogen.
  • Hormon testosteron.
  • Obat pertumbuhan tulang.
  • Kalsitonin.
  • Modulator reseptor estrogen selektif.

Pencegahan Osteoporosis

Masa muda adalah waktu terbaik untuk membangun atau membentuk tulang menjadi lebih padat dan kuat. Mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga teratur dapat membantu proses pembentukan tulang secara optimal.

Selain itu, penting juga untuk menghindari faktor risiko yang dapat membahayakan kesehatan, seperti mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, dan tidak aktif.

Bagaimana mencegah osteoporosis:

  • Makan makanan berprotein seperti kacang-kacangan, biji-bijian, telur.
  • Konsumsi makanan atau minuman berkalori seperti susu, keju, yogurt, sayuran berdaun hijau, salmon, sarden, dan kedelai.
  • Konsumsi atau dapatkan vitamin D karena dapat membantu memaksimalkan penyerapan kalsium.
  • Olahraga teratur seperti lari, renang, yoga, senam, bersepeda dan sejenisnya membantu tulang menjadi lebih kuat dan memperlambat proses pengeroposan.

Bagi seseorang yang tidak bisa mendapatkan kalsium dan vitamin D secara optimal, ada baiknya mengganti makanan dengan suplemen kalsium.

Konsultasikan dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi suplemen kalsium yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda saat ini.

Suplemen kalsium yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan ginjal dan penyakit jantung.

Spanduk layanan perawat mhomecare
MHomecare merupakan satu-satunya perusahaan home care care di Indonesia yang menjamin 100% seluruh petugas kesehatan adalah perawat. Ada layanan home care utama seperti Lulusan Perawat S1 + STR, Perawat Pendamping Lansia dan Bidan atau Perawat Bayi. Dapatkan penawaran menarik khusus untuk pembaca artikel ini, pesan sekarang juga!

Baca juga:

  • 10 Makanan untuk Lansia yang Menderita Osteoporosis
  • 5 Gejala Osteoporosis Yang Sering Dialami Para Lansia
  • 3 Cara Terbaik untuk Mencegah Osteoporosis

Pesan Perawat & Bidan Online

Dapatkan pelayanan kesehatan oleh perawat, bidan, caregiver, caregiver yang profesional, berlisensi dan berpengalaman dengan semangat pelayanan terbaik dan selalu siap merawat orang tercinta seperti keluarga sendiri.

Referensi:
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/ (Diakses 12 November 2020)
https://www.nof.org/patients/what-is-osteoporosis/ (Diakses 12 November 2020)

Pos Osteoporosis: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan muncul pertama kali di Blog MHomecare.