Menjaga Jarak 2 Meter Mengurangi Penularan Virus Telah Dilakukan Sejak Abad ke-19

Ducati Multistrada V4, Motor Pertama dengan Teknologi Radar

Mempertahankan jarak 2 meter dapat mengurangi penularan virus sejak abad ke-19. Foto: Ilustrasi / Net.

Mempertahankan jarak 2 meter dapat mengurangi penularan virus sejak abad ke-19. Kini, akibat pandemi virus Corona (Covid-19) global, terjadi berbagai perubahan dalam aktivitas sehari-hari.

Anda harus selalu memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun, membawa pembatalan makan sendiri, untuk menjaga jarak dengan orang lain. Semua ini sebagai upaya mencegah penularan Covid-19.

Untuk menjaga jarak dari satu orang ke orang lain, di berbagai tempat kita bisa melihat pasti ada rambu-rambu agar kita menjaga jarak. Misalnya saat mengantri di konter pembayaran atau kasir.

WHO merekomendasikan menjaga jarak untuk mengurangi penularan virus. Nasihat ini awalnya disebut jarak sosial. Lalu ubah jadi jarak fisik.

Rekomendasi untuk menjaga jarak guna mencegah penularan Covid-19 juga berubah. Awalnya menjaga jarak minimal 1 meter, dan sekarang minimal 2 meter.

Jika kita menjaga jarak 2 meter dari orang lain akan meminimalkan resiko penyebaran air liur atau tetesan tetesan kecil dari satu orang ke orang lain.

Baca juga: Kesembuhan Penderita Covid-19 Meningkat, Perilaku Masyarakat Perlu Dijaga

Anjuran menjaga jarak untuk mengurangi risiko penularan virus tidak hanya pada saat pandemi Covid-19.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini merupakan riwayat pendapat yang disarankan untuk menjaga jarak dengan orang lain guna meminimalkan risiko penyebaran virus.

Mengapa Menjaga Jarak 2 Meter?

Selain harus memakai masker, untuk mencegah penularan virus, kita juga wajib menjaga jarak dengan orang lain saat berada di tempat umum.

Seperti kita ketahui, virus Corona sedang menyebar droplet bisa masuk ke tubuh kita melalui saluran pernapasan. Bisa lewat mata, hidung, atau lewat mulut.

Droplet penyakit ini dapat menyebar ketika seseorang bersin, batuk, atau berbicara. Droplet akan menempel pada permukaan benda, atau mengarah ke tubuh seseorang.

Saat itulah virus Corona bisa menyebar dari tetesan kecil air liur atau droplet yang datang dari seseorang yang sedang sakit, kepada seseorang yang sehat.

Tetesan besar bisa jatuh ke orang lain atau benda di dekatnya, sementara tetesan air liur yang lebih ringan jatuh lebih jauh. Dengan menjaga jarak 2 meter, kita bisa menghindar droplet seseorang yang bersin atau batuk.

Itulah sebabnya WHO dan Pemerintah Republik Indonesia menganjurkan agar kita menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain. Lalu, hindari keramaian.

Baca juga: Inilah Penyebaran Virus Corona Melalui Udara dengan Mekanika Fluida

Sejarah Aturan Penjagaan 2 Meter

Aturan menjaga jarak dengan orang lain dalam upaya mencegah penyebaran virus bahkan sudah lama diterapkan.

Lakukan penelitian pertama tentang penerapan droplet juga telah berlangsung sejak abad ke-19. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan sampel di atas piring kaca.

Kemudian, pada tahun 1897, peneliti juga mengemukakan adanya jarak sekitar 1 hingga 2 meter antara satu orang dengan lainnya. Ini untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit.

Rekomendasi tersebut didasarkan pada jarak sampel dari droplet yang diketahui mengandung zat atau patogen penyebab penyakit.

Guna memperkuat hasil penelitian ini, pada tahun 1940 peneliti melakukan penelitian melalui foto orang yang sedang bersin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penyebaran tetesan air liur.

Selanjutnya pada tahun 1948, peneliti juga melakukan penelitian melalui droplet droplet tentang penyebaran penyakit streptokokus hemolitik.

Hasil penelitian ini, hanya 10 persen droplet yang keluar sejauh 1,7 meter, namun 10 persen tetesan air liur peserta lain bisa berserakan sejauh 2,9 meter.

Pada penelitian awal, hasilnya masih kurang akurat. Namun, dari tetesan terbesar yang jatuh di dekat inangnya, para peneliti menyimpulkan bahwa, agar tidak tertular penyakit, Anda setidaknya harus menjaga jarak sejauh 2 meter.

Baca juga: WHO Ingatkan Pandemi Virus Corona Akan Berlangsung Lama

Berbagai Faktor Penyebaran Droplet

Sebaran tetesan kecil atau tetesan air liur dari satu orang ke orang lain ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.

Pertama, faktor ukuran droplet diri. Jadi, semakin ringan dan semakin kecil ukurannya droplet, jarak penyebaran akan semakin jauh. Sementara, droplet besar bisa dilempar dekat dengan inangnya.

Selain itu, aktivitas pernapasan seperti bersin atau batuk juga dapat memengaruhi cara tetesan tersebut terlempar pada jarak tertentu.

Saat kita bersin atau batuk, itu menciptakan awan gas yang lembab dan hangat, yang memengaruhi caranya droplet itu melaju.

Faktor lainnya adalah volume bicara. Misalnya saat seseorang sedang bernyanyi, atau berbicara dengan nada keras, maka droplet bisa jatuh lebih jauh.

Untuk itu, menjaga jarak sejauh 2 meter dapat mengurangi risiko penyebaran virus, salah satunya adalah virus Corona penyebab Covid-19.

Untuk lebih mengurangi tingkat penyebaran Covid-19, wajib juga memakai masker saat keluar rumah atau saat bercengkerama dengan orang lain.

Editor: Eva Latifah

Pos Menjaga Jarak 2 Meter Mengurangi Penularan Virus Sejak Abad ke-19 muncul pertama kali di Harapan Rakyat Online.