Kisah Korban Covid-19 yang Mengeksplorasi Cara Penyembuhan Non-Medis

Yamaha BWS 125 dengan Desain Berani Siap Menyaingi Honda ADV

Kisah Korban Covid-19 yang Mengeksplorasi Cara Penyembuhan Non-Medis

Berita Nasional, (harapanrakyat.com), – Kisah para survivor Covid-19 ternyata bisa mengungkap manfaat pendekatan non medis dalam melawan serangan virus Corona. Dari cerita ini, terlihat bahwa proses penyembuhan penderita Covid-19 tidak melulu tentang faktor biologis tubuh.

Hal tersebut terungkap dalam talkshow yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB Jakarta belum lama ini.

Dialog ini mengangkat tema Turning Point for the Covid-19 Survivors. Tampil sebagai pembicara Dr. dr. Dwi Agustian, MPH, PhD, Kepala Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, motivator Tung Desem Waringin dan Elisabeth Susi Satiwi Rudiati.

Tung Desem dan Susi Satiwi Rudiati merupakan orang yang pernah terpapar Covid-19. Keduanya bercerita tentang survivor Covid-19 atau orang yang sudah sembuh dari terpapar virus Corona.

“Aku bahkan sempat mengirim pesan WA ke istriku jika terjadi sesuatu ..,” kata Tung Desem.

Motivator yang sangat terkenal ini mengaku beberapa kali mengalami kondisi kritis yang membuatnya menyerah. Namun dia merasa Covid-19 yang menyerangnya jauh lebih mengerikan.

Baca juga: Meski Telah Ditemukan Vaksin Covid-19, Pandemi Tidak Dijamin Berakhir

Saat terkena Corona, beberapa kondisi kritis yang membuatnya putus asa adalah saat tubuhnya tidak bisa bergerak dan serangannya sesak napas. Tung juga mengaku merasa sangat perih, terutama pada malam hari.

Begitu pula dengan kisah korban Covid-19 Susi Satiwi Rudiati yang saat ini hanya memiliki satu ginjal. Terpapar virus Covid-19 juga membuatnya mengundurkan diri. Apalagi saat mengalami sesak nafas yang menurutnya sangat menyiksa.

Kisah Korban Covid-19 Memperkaya Cara Penanganan Pasien

Sementara itu, dr Dwi Agustian mengatakan gejala Covid-19 yang umum terjadi masih ringan. Seperti demam, radang tenggorokan, batuk, dan penurunan kepekaan terhadap penciuman.

Namun gejala paling parah dan umum yang terjadi pada orang yang terpapar virus Corona adalah sesak napas. “Bahkan gejala sesak napas terasa separah yang mengancam jiwa,” ujar ahli epidemiologi dan biostatistik ini.

Dokter Dwi pun mengapresiasi cerita dan cerita para survivor Covid-19 dari Tung dan Susi yang melakukan metode pengobatan non medis dengan membangun optimisme untuk sembuh. Pengalaman semacam ini memperkaya cara penanganan penyakit yang memiliki ciri khas.

Menurut Dwi Agustian, virus Corona memang unik. Dari sejarahnya, penyakit jenis ini pernah terjadi pada tahun 2002-2003. Saat itu wabah SARS-Cov-1 menyerang Hongkong dengan banyak korban dan dampak yang lebih parah.

Baca juga: Kisah Penderita Covid-19 Positif yang Menular Saat Pergi Berlibur

Menurut Dwi, SARS-Cov-1 tidak mudah menular. Namun, orang yang terkena virus ini memiliki kondisi tubuh yang sangat parah. Banyak organ rusak, menyebabkan banyak kematian.

Berbeda dengan kasus SARS-Cov-1, virus SARS-Cov-2 sebenarnya jauh lebih menular. Kecepatan penularan virus ini menyebabkan penyebarannya menjadi sangat cepat. Sehingga lebih dari 200 negara mengalaminya sehingga menyebabkan pandemi.

Namun serangan virus ini pada tubuh tidak separah SARS-Cov-1. Oleh karena itu angka kesembuhan untuk pasien yang terpapar juga cukup tinggi. Bahkan kisah Covid-19 survivor dari Tung Desem dan Susi yang sembuh tanpa obat.

Pendekatan Non Medis dalam Penanganan Penderita Covid-19

Tung dan Susi mengaku tidak meminum obat dari dokter saat dirawat di rumah sakit. Tung mengaku tidak suka minum obat. Sementara itu, Susi menolak obat tersebut karena hanya punya satu ginjal, sehingga khawatir akan dampaknya.

"Saya berhasil sembuh dari Covid-19 karena saya minum air hangat dan VCO serta melakukan pernapasan Wim Hof," kata Tung Desem. Metode Wim Hof ​​saat ini sedang populer sebagai alternatif penanganan Covid-19.

Baca juga: Kisah Doni Monardo Bertemu Orang yang Positif Covid-19 Tapi Tidak Menular

Sementara itu, pengalaman penyintas Covid-19 lainnya & # 39; cerita diungkapkan oleh Susi. Ia mengaku sembuh dari minum banyak air hangat dan vitamin. Namun, ibu rumah tangga ini mengaku secara ajaib sembuh dari virus Corona karena bersedekah.

Diakui Dwi Agustian, absennya obat Covid-19 membuka pendekatan baru dalam ilmu kedokteran modern yang tidak lagi hanya bergantung pada faktor biologis tubuh. “Saat ini sedang berlangsung pengobatan transformatif dengan pendekatan determinan sosial terhadap kesehatan,” ujarnya.

Kesehatan dan penyakit, menurut Dwi, bukan semata-mata aspek biologis, melainkan perilaku. Pengobatan modern sudah mulai menggunakan pendekatan sosial, seperti kisah Covid-19 survivor dari Tung dan Susi yang tidak bisa sembuh dari narkoba. (Bgj / R2 / HR-Online)

Editor: Subagja Hamara

Postingan Kisah Korban Covid-19 yang Diperiksa Cara Penyembuhan Non Medis muncul pertama kali di Harapan Rakyat Online.