Kisah dr Sriyanto SpB, dokter survivor Covid-19 yang lolos dari maut

Warna Baru Honda CBR150R 2021, Hadir dengan 4 Pilihan Terbaru

Kisah dr Sriyanto SpB, dokter survivor Covid-19 yang lolos dari maut

Berita Nasional, (harapanrakyat.com), – Mungkin banyak dokter yang pernah selamat dari Covid-19 yang bercerita tentang perjuangan mereka saat terkena virus Corona. Namun apa yang dialami dr Sriyanto SpB mungkin sedikit berbeda. Apalagi ia adalah seorang dokter yang konsisten dengan pengobatan modern.

Namanya dr Sriyanto SpB, seorang ahli bedah yang bekerja di sebuah rumah sakit di Wonogiri, Jawa Tengah. Pelayanannya tiba-tiba terhenti saat hasil swab test pada 18 November 2020 menunjukkan hasil yang positif.

“Saya dan satu-satunya anak wayang dinyatakan positif. Makanya kita harus segera melakukan isolasi di RS Moewardi, Solo, ”tuturnya tentang pengalamannya.

Gejala pertama yang paling dirasakan Sriyanto dan anaknya adalah demam dan batuk. Bahkan sepanjang perjalanan dari rumah di Wonogiri hingga Solo dia merasakan badan menggigil.

Sebenarnya bukan keparahan rasa sakit yang dialami dokter yang membuatnya merasa begitu berat. Pasalnya, di saat yang sama, ayah mertuanya juga tengah dirawat di ICU dan sama-sama positif mengidap Covid-19.

Baca juga: Penderita Covid-19 Penderita Komorbid memiliki Risiko Kematian Tinggi

Kebetulan dokter mertuanya yang selamat dari Covid-19 juga seorang ahli bedah. Namun karena mertuanya berusia 78 tahun, mereka sangat rentan terserang virus Corona.

Yang lebih menyedihkan, bukan hanya dirinya dan anak serta mertuanya yang terpapar virus menular ini. “Selain mertua kami, total 8 orang dari keluarga kami dinyatakan positif Covid-19,” ujarnya saat menceritakan kisahnya.

Pengalaman Korban Covid-19 Selama Isolasi

Setelah sampai di ruang isolasi RSUD Moewardi, Solo, kondisi Dokter Sriyanto semakin memburuk. Selain demam tinggi, tubuhnya juga menggigil kedinginan. Untuk mencegah menggigil akut, ia juga harus mengonsumsi pamol setiap 6 jam.

Di hari keempat, Sriyanto mulai batuk-batuk dan seluruh badan terasa sakit. Nyatanya, kondisi batuk semakin parah hingga Anda "mencengkeram", termasuk setiap kali Anda menggerakkan tubuh. Saat shalat, dia sering batuk sehingga merasa sangat tersiksa.

Di hari keenam, kondisi dokter penyintas Covid-19 terlihat semakin parah. Selain batuk yang semakin parah, ia juga sulit bernapas. Bahkan Sriyanto mengaku belum bisa merasakan indra penciuman dan perasa.

Hanya untuk mengunyah masalah. Dia merasakan nasi yang dijatah sangat keras. “Saya sudah mencoba beberapa kali agar tubuh saya mendapat asupan makanan yang cukup. Namun saat mengunyah mulut selalu mual dan tidak terasa rasa makanan. Tenggorokannya juga sangat nyeri. Saya mengunyah nasi dan lauk pauk dan mencoba menikmatinya. Tapi yang terjadi adalah saya ingin muntah, ”katanya.

Baca juga: Kisah Seorang Jurnalis Tertular Covid-19, Tidak Mengalami Gejala Menjadi Negatif

Kondisi sakit ini membuat emosinya naik. Ia bahkan melayangkan protes ke bagian gizi rumah sakit. “Saya marah dan mengira mereka tidak menanak nasi dengan benar dan koki rumah sakit lalai,” ujarnya.

Namun, emosinya mereda setelah mendapat penjelasan bahwa nasinya lembut seperti biasanya. Banyak pasien lain bisa mengunyah nasi dengan baik, tapi rasanya pahit bagi dokter penyintas Covid-19 ini.

Akhirnya ia menyadari bahwa kondisi tersebut merupakan akibat dari tidak keluarnya cairan kelenjar sehingga akan mengganggu fungsi saraf menelan. Virus ini menyebabkan berbagai fungsi mulut dan tenggorokan terganggu.

Hari ketujuh adalah puncak dari penderitaannya. Batuk semakin parah, apalagi dengan penyakit penyerta diabetes yang dialaminya. Bahkan sudah dua tahun sejak dia harus menyuntikkan insulin novomic untuk diabetesnya.

“Risiko penderita diabetes terkena Covid-19 biasanya berujung pada kematian. Beberapa teman juga berpikir sehingga saya hampir menyerah,” kata dokter penyintas Covid-19 itu mengenang pengalamannya.

Plasma untuk Korban Covid-19

Namun malam itu dua kantong plasma yang ia pesan dari Jakarta tiba. Dokter ini sangat yakin bahwa plasma dan tosilizumab adalah obat ampuh untuk mengobati COVID-19. Jadi dia mendapat suntikan kantong plasma.

Baca juga: Sebelum dianggap efektif, yang terpenting adalah menguji keamanan vaksin Covid-19

Selain itu, ia juga meminta suntikan tosilizumab. “Karena saya lebih mengutamakan pengobatan daripada pengobatan alternatif. Apalagi obat-obatan medis sudah teruji. Meski harganya sampai Rp 8 juta, saya tetap ngotot minta suntik tosilizumab,” ujarnya.

Hasilnya, 6 jam kemudian kondisi tubuhnya mulai membaik. Padahal, dia mengaku sudah bisa mencicipi enaknya buah pisang.

Pada hari kedelapan, dokter penyintas Covid-19 ini mendapat suntikan plasma kedua. Setelah itu ia tidur selama 12 jam dengan tubuh menempel pada ecg device, 2 jalur infus, dan 5 liter oksigen.

Memasuki hari kesembilan, tubuhnya sudah terasa ringan dan segar. Demam menurun, suhu tubuh juga kembali normal, dan batuk banyak berkurang. “Hati saya juga merasa senang dan masa kritis telah berlalu,” ujarnya.

Dari pengalamannya, dokter penyintas Covid-19 ini mengaku asterma dari tosilizumab dan plasma terbukti cocok untuk mengobati Covid-19, terutama dengan penyakit penyerta diabetes. Meski bersyukur bisa terbebas dari Covid-19, sayangnya ayah mertuanya tak bisa tertolong. (R2 / JAM-Online)

Editor: Subagja Hamara

Postingan Kisah dr Sriyanto SpB, dokter penyintas Covid-19 yang dibebaskan dari kematian muncul pertama kali di Harapan Rakyat Online.